Abon Bandeng Wadas Terkendala Pemasaran
LEMAHABANG WADAS, RAKA - Olahan ikan bandeng Lemahabang Wadas yang
dikemas dalam bentuk abon tembus pasar ekspor. Bahkan, abon bandeng yang
diracik kelompok usaha perikanan "Kafilah" di Desa Kedawug tersebut
sempat dinikmati masyarakat Dubai Uni Emirat Arab.
Selain abon, presto, steak ikan, risoles sampai rengginang dan opak ikan juga turut dipasarkan ke berbagai toko dan swalayan di Karawang. Ketua Kelompok usaha Kafilah, Laila Yunita Indah SPI megatakan, ikan bandeng yang didapatnya dari Sungaibuntu Kecamatan Cilebar dan Cilamaya ini menginspirasinya untuk membentuk olahan ikan yang bukan sempit pada ikan pindang saja.
Jenis ikan bandeng, patin dan rajungan ini diolah dan dikemas bersama ibu-ibu kelompok di lingkugan sekitar rumahnya. Hasilnya, olahan ikan ini selain dibuat stan di Lemahabang, pihaknya juga memasarkan ke toko-toko di Karawang seperti toko Denpasar, Tecnomart, Pasar Karaba dan Koperasi Kodim. Bahkan lanjut Laila, abon yang diproduksinya pernah dijual di sebuah restoran di Dubai seharga Rp 20 ribu per kemasannya. Sayangya, abon yang menembus luar negeri lewat para TKW asal Kedawung itu terhenti akibat Dubai tidak lagi dijadikan tempat tujuan TKI. "Kita mulai produksi olahan ikan ini sejak 2 tahun lalu, inginnya kita terus ada pengembangan seperti rumbia ikan dan bakso bandeng," katanya kepada RAKA.
Laila menambahkan, olahan ikan yang digarapnya belum berskala besar, karena selain hanya melibatkan beberapa orang saja, dirinya terkadang berperan bukan sebagai produsennya saja melainkan sebagai distributor ke pasar-pasar maupun lewat sistem online. Tak heran, usaha olahan ikan yang dibuatnya sempat mendapati penghargaan juara 1 Tingkat Kabupaten Karawang untuk ragam kategori usaha maupun produksinya. Pengargaan tersebut dijadikannya modal kembali untuk terus mengembangkan usaha.
Laila mengaku, menjelang dimulainya masyarakat ekonomi Asean 2015 mendatang, dirinya menaruh harapan besar agar pemerintah bisa membuka akses pemasaran lebih luas bagi hasil olahan produk lokal ini, baik domestik maupun pasar ekspor. Pasalnya, prosedur masuk ke berbagai supermarket diakuinya masih kesulitan karena banyak syarat yang kurang menguntungkan usahawan. Ia mencontohkan seperti pajak yang terlalu tinggi dan biaya sewa dan syarat lainnya, sehingga sulit masuk. Padahal, produk olahan ikan yang dihasilkannya sudah bersertifikasi halal dan uji kesehatan atas kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM karawang. "Kita juga kerjasama dengan Dinas Koperasi untuk pengemasan, mudah-mudahan juga penambahan modal usaha yang diajukan lewat proposal kepada Dinas Kelautan dan Perikanan bisa terealisasi," katanya.
Lebih jauh ia menambahkan, meskipun sudah dikenal sampai pemerintahan kecamatan, usahaya tidak banyak menyentuh PNPM dan program pemerintah lainnya. Hal itu akibat ketidaktahuannya jika ada program pemberdayaan ekonomi yang bisa memberikan modal perguliran. Pasalnya, setiap usaha jelas butuh banyak modal, karena selama ini usahanya ada yang sudah menggunakan teknologi bagus ada pula yang manual. Namun meski seadanya, ia dan karyawannya detail memperhatikan standar kualitas rasa dan kesehatan. "Pembuatannya kita detail ikan-ikan bersih dan kualitas baik tanpa pengawet, Alhamdulillah produk kita laku di pasaran, mudik nantipun insya Allah jadi panganan oleh-oleh khas Karawang," katanya.
Anggota Kelompok usaha Kafilah, Lia Mulia Tiara, mengakui kegurihan rasa sejumlah produk olahan ikan. Selain sudah merasakannya, sebagai pengurus kelompok dirinya sudah tidak heran produk Kafilah laku di pasaran. "Gurih dan renyah pak, yakin," ujarnya. (rud)
Selain abon, presto, steak ikan, risoles sampai rengginang dan opak ikan juga turut dipasarkan ke berbagai toko dan swalayan di Karawang. Ketua Kelompok usaha Kafilah, Laila Yunita Indah SPI megatakan, ikan bandeng yang didapatnya dari Sungaibuntu Kecamatan Cilebar dan Cilamaya ini menginspirasinya untuk membentuk olahan ikan yang bukan sempit pada ikan pindang saja.
Jenis ikan bandeng, patin dan rajungan ini diolah dan dikemas bersama ibu-ibu kelompok di lingkugan sekitar rumahnya. Hasilnya, olahan ikan ini selain dibuat stan di Lemahabang, pihaknya juga memasarkan ke toko-toko di Karawang seperti toko Denpasar, Tecnomart, Pasar Karaba dan Koperasi Kodim. Bahkan lanjut Laila, abon yang diproduksinya pernah dijual di sebuah restoran di Dubai seharga Rp 20 ribu per kemasannya. Sayangya, abon yang menembus luar negeri lewat para TKW asal Kedawung itu terhenti akibat Dubai tidak lagi dijadikan tempat tujuan TKI. "Kita mulai produksi olahan ikan ini sejak 2 tahun lalu, inginnya kita terus ada pengembangan seperti rumbia ikan dan bakso bandeng," katanya kepada RAKA.
Laila menambahkan, olahan ikan yang digarapnya belum berskala besar, karena selain hanya melibatkan beberapa orang saja, dirinya terkadang berperan bukan sebagai produsennya saja melainkan sebagai distributor ke pasar-pasar maupun lewat sistem online. Tak heran, usaha olahan ikan yang dibuatnya sempat mendapati penghargaan juara 1 Tingkat Kabupaten Karawang untuk ragam kategori usaha maupun produksinya. Pengargaan tersebut dijadikannya modal kembali untuk terus mengembangkan usaha.
Laila mengaku, menjelang dimulainya masyarakat ekonomi Asean 2015 mendatang, dirinya menaruh harapan besar agar pemerintah bisa membuka akses pemasaran lebih luas bagi hasil olahan produk lokal ini, baik domestik maupun pasar ekspor. Pasalnya, prosedur masuk ke berbagai supermarket diakuinya masih kesulitan karena banyak syarat yang kurang menguntungkan usahawan. Ia mencontohkan seperti pajak yang terlalu tinggi dan biaya sewa dan syarat lainnya, sehingga sulit masuk. Padahal, produk olahan ikan yang dihasilkannya sudah bersertifikasi halal dan uji kesehatan atas kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UKM karawang. "Kita juga kerjasama dengan Dinas Koperasi untuk pengemasan, mudah-mudahan juga penambahan modal usaha yang diajukan lewat proposal kepada Dinas Kelautan dan Perikanan bisa terealisasi," katanya.
Lebih jauh ia menambahkan, meskipun sudah dikenal sampai pemerintahan kecamatan, usahaya tidak banyak menyentuh PNPM dan program pemerintah lainnya. Hal itu akibat ketidaktahuannya jika ada program pemberdayaan ekonomi yang bisa memberikan modal perguliran. Pasalnya, setiap usaha jelas butuh banyak modal, karena selama ini usahanya ada yang sudah menggunakan teknologi bagus ada pula yang manual. Namun meski seadanya, ia dan karyawannya detail memperhatikan standar kualitas rasa dan kesehatan. "Pembuatannya kita detail ikan-ikan bersih dan kualitas baik tanpa pengawet, Alhamdulillah produk kita laku di pasaran, mudik nantipun insya Allah jadi panganan oleh-oleh khas Karawang," katanya.
Anggota Kelompok usaha Kafilah, Lia Mulia Tiara, mengakui kegurihan rasa sejumlah produk olahan ikan. Selain sudah merasakannya, sebagai pengurus kelompok dirinya sudah tidak heran produk Kafilah laku di pasaran. "Gurih dan renyah pak, yakin," ujarnya. (rud)

0 komentar: